Tampilkan postingan dengan label Sejarah Keturunan Tionghoa Di Asia Tenggara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Keturunan Tionghoa Di Asia Tenggara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 September 2017

Sejarah keturunan Tionghoa di Asia Tenggara - 1


Sejarah keturunan Tionghoa di Asia Tenggara

Palembang (Ku-kang) Pada tahun 1275 Kertanagara Raja Singasari terachir di Jawa Timur mengirim ekspedisi militer ke Dharmasraya (Sriwijaya, Sumatera Selatan dengan ibu kota Palembang). Catatan thn 1286 menunjukkan serangan tsb berhasil dan Sriwijaya direbut. Namun thn. 1292 Kertanagara sendiri terbunuh oleh pemberontakan Kediri dan Singasari jatuh. Tanah bekas Sriwijaya terlantar, keadaan kacau.

 Dalam buku “The fall of Srivijaya in Malay history” hal. 73, bahwa di Palembang tidak ada penguasa kepada siapa dapat ditujukan peringatan kaisar Tiongkok T’ai-tsu. Tindakan kaum pedagang Tionghoa mencerminkan bagaimana besarnya kekacauan pada waktu itu. Mereka telah memilih pimpinan sendiri. Jalan yang ditempuh Palembang dengan pemerintah Tionghoa perantauannya (with its overseas Chinese government) untuk memulihkan keadaan adalah sesuai dengan pandangan bahwa orang Tionghoa telah menyaksikan suatu keadaan yang tak dapat dibiarkan dan mereka bertekad tidak boleh berlarut-larut.

kerajaan Sriwijaya ambruk, Palembang telah dikuasai orang-orang Tionghoa selama 200 (duaratus) tahun. Ketika kejayaan Sriwijaya surut sekian ribu orang Tionghoa dari Fukien dan Canton yang telah menetap disana telah memerintah diri sendiri.

Dinasty Ming Tiongkok, bahwa orang Jawa tak mampu menguasai seluruh negara sesudah San-bo-tsai (Sriwijaya) ditaklukkan. Karena itu, demikian  Dynasty Ming  records tersebut, orang Tionghoa setempat telah berdiri sendiri. Seorang dari Nan-Hai (Namhoi) Canton bernama Liang Tau-ming telah terpilih sebagai pemimpin. Dia menguasai sebagian negara dan puteranya ikut dengan utusan kaisar kembali ke Tiongkok. Pada tahun 1405 kaisar mengutus seorang kurir dari desa asalnya Liang Tau-ming dengan perintah agar Liang Tau-ming menghadap ke istana. Liang Tau-ming bersama kawan seperjuangannya Cheng Po-k’o berangkat membawa produk-produk setempat sebagai upeti. Mereka pulang dengan membawa hadiah yang berlimpah.
                                                                                                              Mochtadin si beted

Sejarah keturunan Tionghoa di Asia Tenggara -2


Cheng Ho mendirikan masyarakat Islam Tionghoa di Palembang



Tahun 1407 atau shortly after that Laksamana Islam Cheng Ho mendirikan masyarakat Islam Tionghoa di Palembang. Tahun 1415 Palembang oleh kaisar Tiongkok diakui sebagai berada dibawah kekuasaan Jawa (Majapahit). Pendapat Purcell, bahwa Palembang dikuasai orang2 Tionghoa selama 200 tahun mungkin karena pihak Jawa secara de facto belum dapat mengatasi keadaan dengan betul, mungkin juga karena seperti tersebut dibawah ini                                                                                                           penguasa yang dikirim dari Jawa adalah                                                                                                   orang Tionghoa.
Kerajaan Majapahit juga berdiri kurang lebih 200 (duaratus) tahun. dari 1294 hingga 1478 dan sedari itu menjadi sub-state dibawah para penguasa Kerajaan Islam Demak hingga Majapahit tiada lagi, Annals yang masih diperselisihkan itu menyebutkan perkembangan sebagai berikut.:
 Thn. 1443 Swan Leong (Arya Damar) putera alm. Raja Majapahit dengan seorang wanita Tionghoa, oleh Gan Eng Chou (Arya Teja) telah ditunjuk sebagai kapten Muslimin Tionghoa di Palembang sekalian menjadi penguasa atas nama saudara perempuan-tirinya, yaitu Ratu Suhita dari Majapahit. Gan Eng Chou adalah kapten Tionghoa di Tuban, Jawa Timur. Dia oleh Ratu telah dianugerahi gelar Arya sebagai bukti penghargaan terhadap jasa-jasanya. berkesimpulan hal tsb menunjukkan suatu sikap yang sangat baik dari pihak keluarga Raja terhadap orang Tionghoa. Mengenai pemerintahan Tionghoa Perantauan di Palembang,
menunjuk pada dokumen-dokumen  sejarah Dinasti Ryukyu

Kertanagara, raja Singasari yang terachir, pada thn.1289 telah menantang wibawa kaisar Monggol Kublai Khan, yang masa itu berkuasa di Tiongkok. Dia memulangkan utusan kaisar dengan muka yang dilukai. Kublai Khan mengirim tentaranya ke Jawa. Tetapi sebelum kedatangan tentara tsb Kertanagara pada thn 1292 telah tewas disebabkan pemberontakan Kediri. Singasari jatuh. Ketika tentara Kublai Khan tiba, Raden Wijaya, kemenakan dan menantunya Kertanagara, menyerahkan diri pada pimpinan tentara Monggol dan menyatakan.
 bahwa Raja Kediri Jayakatwang telah menggantikan Kertanagara.

Raden Wijaya berhasil membujuk tentara Kublai Khan untuk menjatuhkan Daha (Kediri). Setelah tentara Kediri hancur, Raden Wijaya berbalik menyerang tentara Kublai Khan. Dia minta diberi 200 pengawal Monggol/Tionghoa yang tak bersenjata untuk kepergiannya ke kota Majapahit dimana dia akan menyerah dengan resmi pada wakil-wakil Kublai Khan. Ditengah perjalanan para pengawal dibantai dan sebagian lain tentara Monggol yang tidak menduganya dapat dikepung. Siasat Raden Wijaya menghasilkan pihak Monggol kehilangan 3000 orang dan terpaksa meninggalkan pulau Jawa tanpa hadiah-hadiah yang dijanjikan. Tahun 1293-94 Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit di Jawa Timur.
                                                                                                        Mochtadin si beted

Sejarah keturunan Tionghoa di Asia Tenggara - 3

hubungan Majapahit dengan Tiongkok

Kublai Khan, cucunya Jengiz Khan, meninggal 18 Pebruari 1294. Antara thn. 1325 dan 1375 hubungan Majapahit dengan Tiongkok telah membaik. Sang Adityawarman yang dibesarkan di Majapahit dan yang kemudian menjadi Raja Sumatera-Barat telah mengunjungi istana kaisar Tiongkok sebagai menteri dan utusan Majapahit pada thn. 1325 dan kunjungan ke dua pada thn 1332.

Pada tg. 30 oktober 1371 kaisar T’ai-tsu mengeluarkan pengumuman dengan petunjuk untuk para pejabatnya:
 menguasai tanah yang terlalu besar tidak mendatangkan ketenteraman. Bila rakyat diharuskan bekerja terlalu berat, keadaan itu menjadi sumber kekacauan ,pernyataan-pernyataan  T’ai-tsu kepada penguasa-penguasa  asing mengandung banyak saran kebijaksanaan. Daripada menganjurkan mereka untuk berdagang dengan Tiongkok,
dia menginginkan mereka berkuasa dengan baik, memelihara hubungan baik dengan negara tetangganya dan saling mengindahkan tapal-batas masing-masing.

T’ai-tsu curiga ada penguasa asing berakal bulus serta mengirim utusan dengan maksud yang tidak jujur, dia lebih baik menolak upeti mereka. Misalnya, upeti perampas kuasa (usurpers) tidak dapat diterima olehnya (were unacceptable to him).
Hubungan Tiongkok-Siam jaman lampau mengandung unsur yang di satu pihak berdasarkan “vanity” (pengumpakan diri) dan di lain pihak berdasar pada “rapacity” (nafsu menggarong, lebih jelek daripada serakah/greedy). Raja Siam mengaku dirinya sebagai pembayar upeti terhadap kaisar Tiongkok bukan karena terpaksa dan bukan karena berada dibawah kekuasaan kaisar, melainkan demi menghindarkan pembayaran bea bagi kapal-kapal yang membawa utusannya ke Tiongkok.

Para utusan tersebut  mempersembahkan bunga dari mas sebagai tanda upeti, tetapi kaisar menerima hadiah tersebut jauh lebih berharga sebagai tanda penghargaan. Negara-negara  lain yang lemah mengakui kaisar Tiongkok karena sebagai imbalannya mendapat perlindungan terhadap gangguan-gangguan  dari luar.

                                                                                             by ; mochtadin si beted

Sejarah keturunan Tionghoa di Asia Tenggara - 4

Dalam arsip Tiongkok

Dalam arsip Tiongkok tercatat bahwa pada thn. 1376 ketika dinasti Yuan (Monggol) sudah digantikan oleh dinasti Ming (1368-1644) raja Tan-ma-sa-na-ho wafat. Tidak jelas apa nama aslinya, tetapi kawasan yang dipersoalkan menyangkut tanah bekas Sriwijaya. Raja yang wafat digantikan oleh puteranya yang disebut sebagai Ma-la-cha Wu Li  mungkin putera tersebut  adalah Maharadja Wuli, Tahun berikutnya maharaja mengirim upeti kepada kaisar Tiongkok berupa barang-barang dan binatang-biatang  khas dalam negeri. Utusan-utusannya menyampaikan pesanan  serta mohon mendapat ijin kaisar (dengan maksud mendapat perlindungannya).
Kaisar memuji perasaan tanggungjawab maharaja dan memberi perintah untuk menyampaikan segel (cap, seal) kepadanya disertai pengangkatan dia sebagai raja San-bo-tsai (Sriwijaya). Namun pada waktu itu Sriwijaya sudah dibawah kekuasaan Jawa (Majapahit). Raja Majapahit sangat murka mendengar kaisar telah menunjuk raja untuk San-bo-tsai dan mengirim anak buahnya untuk mencegat dan membunuh utusan kaisar. Kaisar dapat mengerti kemurkaan raja Majapahit dan tidak mengadakan pembalasan. Setelah kejadian ini lambat-laun San-bo-tsai/Sriwijaya jatuh miskin dan tidak datang lagi upeti dari kawasan itu. Catatan tsb sesuai dengan kenyataan bahwa bekas Sriwijaya terlantar dan kacau. Keguncangan Singasari-Kediri dan belum terkonsolidasinya Majapahit menyebabkan pihak Jawa tidak mampu mengurus tanah Sriwijaya yang tadinya ditaklukkan oleh Kertanagara.

perang saudara
Tentang perang saudara Paregreg di Majapahit tercatat bahwa dalam thn. 1405 sida-sida (eunuch) Laksamana Cheng Ho telah diutus ke Majapahit yang dewasa itu dikuasai oleh dua raja, Raja Timur dan Raja Barat. Tahun berikutnya kedua raja saling berperang. Raja Timur dikalahkan dan kerajaannya hancur. Pada waktu itu utusan kaisar kebetulan berada di negara Raja Timur. Ketika prajurit Raja Barat masuk ke tempat pasar, 170 orang dari utusan kaisar terbunuh, hal mana membuat Raja Barat kuatir serta mengirim utusan minta maaf. Kaisar mengeluarkan pengumuman sangat mencela Raja Barat dan menuntut pembayaran enam-puluh ribu tail mas sebagai denda.

             Tahun 1408 Cheng Ho sekali lagi diutus ke negara ini dan Raja Barat memberi sepuluh ribu tail mas. Petugas2 Dewan Tatacara di Tiongkok melihat jumlah tidak cukup dan bermaksud mempenjara utusan2 yang membawanya, tetapi kaisar mengatakan: “Yang saya kehendaki dari orang2 yang hidup dijauhan yalah mereka menginsyafi kesalahannya. Saya tidak ingin memperkaya diri dengan masnya.” Seluruh denda dikembalikan. Sedari itu mereka terus-menerus membawa upeti. Terkadang sekali dalam dua tahun, ada kalanya lebih dari satu kali setahunnya. Para utusan Wu Pin dan Cheng Ho seringkali mengunjungi Majapahit.


Demak, Banten,Cirebon Pada dasawarsa-dasawarsa  terachir abad ke 15 di Jawa Tengah telah didirikan kerajaan Islam Demak yang berlangsung dari 1475/1478 hingga 1546/1568. Pendirinya adalah puteranya Cek Ko-Po dan berasal Dari Palembang , dimana ketika itu terdapat masyarakat Islam Tionghoa yang besar. Dia terkenal dengan nama Raden Patah (AL Fatah), alias Jin Bun / Panembahan Jimbun / Arya (Cu-Cu) Sumangsang / Prabu Anom.
 Kalangan berkuasa Demak sebagian besar terdiri dari orang-orang  keturunan Tionghoa. Sebelum jaman colonial, pernikahan antara orang Tionghoa dengan orang Pribumi merupakan hal yang normal. Di gambarkan keadaan pada abad ke 16, di kota-kota  pelabuhan pulau Jawa kalangan berkuasa terdiri dari keluarga-keluarga  campuran, kebanyakan Tionghoa peranakan Jawa dan Indo-Jawa , dalam abad ke 16 sejumlah besar orang Tionghoa hidup di kota-kota  pantai Utara Jawa.
Disamping Demak, juga di Cirebon, Lasem, Tuban, Gresik (Tse Tsun) dan Surabaya. Banyak orang Tionghoa Islam mempunyai nama Jawa dan dengan sendirinya juga nama Arab. Pada jaman itu sebagai Muslimin mempunyai nama Arab meninggihkan gengsi.

                                                                                                              Mochtadin si beted

Sejarah keturunan Tionghoa di Asia Tenggara - 5


Raja - raja Demak adalah :


1.    Jin Bun alias Al-Fatah (Raden Patah) 1478 - 1518
     2.    Yat Sun alias Adipati Yunus 1518 - 1521
3.    Tung Ka Lo alias Trenggana 1521 - 1546
4.    Muk Ming alias Sunan Prawata 1546 - 1546
Muk Ming dikalahkan dan terbunuh oleh Arya Penangsang Jipang, seorang cucu lain dari Raden Patah. Penangsang Jipang sendiri kemudian dibunuh oleh iparnya Muk Ming. Kerajaan Islam Demak tiada lagi karena ipar tsb mempunyai negara sendiri di Pajang di pedalaman Jawa Tengah dan merupakan orang Islam mazhab Shi’ite,
Demak dua kali dengan sia-sia menyerang kekuatan Portugis di Malaka dan satu kali di Maluku. Namun pada tahun 1526-1527 Sunan Gunung Jati alias Fatahillah / Toh A Bo / Pangeran Timur, panglima kerajaan Demak, merebut Sunda Kalapa dan berhasil mengusir orang Portugis yang datang dengan maksud membangun benteng.

Nama Sunda Kalapa oleh dia diganti menjadi Jayakarta.
pada tahun 1564 the martial king of Aceh Ala’ad-Din Shah telah minta pada “Raja Demak, Kaisar Jawa” (o Rey de Dama, Imperador do Jaoa) untuk membantu ekspedisinya menghadapi orang Portugis di Malaka. Nampaknya 18 tahun setelah runtuhnya kerajaan Demak, di tempat itu ,masih terdapat kekuasaan yang oleh the mighty king of Aceh dipandang cukup berkuasa untuk diajak bersekutuan. Pada tahun 1574, jauh setelah kerajaan Demak tiada lagi, Ratu Kalinyamat dari Japara, cucu perempuan Raden Patah, masih merasa cukup kuat untuk mengirim kapal-kapal perang menyerang orang Portugis di Malaka.

Setelah merebut Sunda Kalapa, Sunan Gunung Jati menjadi Sultan Banten dan membentuk masyarakat Islam disana. Kesultanan Banten kemudian dia serahkan kepada Hasanuddin, puteranya, dan oleh tradisi Jawa dipandang sebagai raja Banten yang pertama.
Pada tahun 1552 Sunan Gunung Jati datang ke masyarakat Muslim Tionghoa di Cirebon. Dia kecewa dengan adanya saling bunuh-membunuh antara cucu-cucunya Raden Patah. Sunan Gung Jati mengabulkan permintaan Haji Tan Eng Hoat alias Maulana Ifdil Hanafi untuk mendirikan kesultanan di Cirebon .Sebagai orang yang sudah berumur lanjut dia menjadi sultan Cirebon yang pertama, menikah dengan puterinya Haji Tan Eng Hoat dan putera mereka menjadi Sultan Cirebon yang ke II.
========================================================================
Antara tahun 1430 dan tahun 1567 orang Tionghoa dilarang meninggalkan tanah leluhurnya. Angkatan Laut Tiongkok yang canggih dengan teknologi yang jauh lebih tinggi tingkatnya daripada kapal-kapal Eropa, diterlantarkan.
Tahun 1431 yaitu 61 tahun sebelumnya Columbus, kapal-utama Laksamana Cheng Ho berukuran 140 meter, sedangkan panjangnya kapal Columbus hanya 30 meter. Peninggalan-peninggalan yang diketemukan menunjukkan Australia dan Amerika Latin telah dikunjungi oleh pelaut-pelaut Tionghoa.

Selama abad ke 1 hingga abad ke 14 Masehi, Tiongkok telah membanjiri Eropa dengan bukti penemuan-penemuan  itu, imunisasi, inokulasi. Semua ini mengakibatkan kegemparan di dunia Barat.
Pada tahun 1574 Lim Ah Hong, seorang yang berada diluar perlindungan hukum (an outlaw) mengepung benteng Spanyol di Pilipina serta nyaris merebut Manila. Kemampuan seorang outlaw Tionghoa untuk mengguncangkan kekuasaan Spanyol di Asia, membuat gubernur Spanyol mengingini hubungan baik dengan kaisar Tiongkok. Tahun 1661 Koxinga mengalahkan Belanda di Taiwan. Satu tahun kemudian dia mengirim ultimatum kepada penguasa Spanyol di Pilipina untuk menyerah kepadanya atau dihancurkan .
penemuan bahan peledak di Tiongkok. Sedari permulaan, bahan peledak dipergunakan untuk keperluan-keperluan  militer.
Pada dynasti T’ang (618-907) bahan peledak “nitre” dan alkimia Tionghoa dikenal orang-orang Arab dan Persia sebagai “salju Tionghoa” dan “garam Tionghoa”. Abad ke 13 bahan peledak Tionghoa mulai dikenal Eropa melalui orang Arab yang masa itu berkuasa di Spanyol.
Tidak lama kemudian orang Arab dapat membuatnya sendiri. Senjata dan roket Arab Qidan” berdasarkan model-model Tionghoa. Pada masa itu Tiongkok di Eropa terkenal sebagai Qidan. Pada tahun 1326 Inggris, Perancis dan Negara-negara Eropa untuk pertama kalinya membuat alat- alat perang yang berasal Tiongkok ini. Senjata-api “blunderbus” yang dipergunakan di Eropa sekitar permulaan abad ke 14 asal-usulnya di Tiongkok.
=============================================================
Kalimantan-Barat Pada dasarnya Indonesia terdiri dari bagian-bagian yang dahulu mempunyai kedaulatan sendiri seperti kerajaan, kesultanan
Dalam abad ke 18 dan abad ke 19 di Kalimantan-Barat selain kerajaan/kesultanan terdapat juga sejumlah negara republik.. Masing-masing negara republik terdiri dari suku-suku  tertentu. Dan kurangnya pemersatuan  hingga mudah diadu-domba oleh pemerintah kolonial Belanda. Setelah perang melawan Belanda dengan pertumpahan darah yang besar pada tahun 1854 hanya tinggal satu Republik Lan Fong yang achirnya berdiri 107 tahun. Meskipun tahun. 1884 Belanda berhasil menghancurkannya, tahun 1912 berhasil diamankan. Sisa pusat perlawanan Lan Fong pertama-tama menyingkir ke Sarawak. Disana mereka terkenal dibawah bendera Sam Tiam Hui.

107 Tahun Republik Lan Fong lebih lama daripada negara persatuan Jerman bentukan Bismarck, yang setelah kira-kira 75 tahun pecah menjadi Jerman Timur dan Barat. Ditambah 12-13 tahun setelah dipersatukan lagi juga belum 100 tahun. Belgia terbentuk tahun 1830 hingga kini 173 tahun dan dengan demikian berumur kurang daripada self-government orang-orang Tionghoa di Palembang yang menurut Victor Purcell berlangsung selama 200 tahun.

Tahun 1885 (setahun setelah Lanfong hancur) tentara Belanda masih menghadapi perlawanan. Orang-orang Lan Fong inilah yang tadinya mengolah pertambangan mas di Kalimantan hingga daerah ini menjadi makmur ,Ketika thaiko Lo Fong-phak mendirikan Kongsi Lan Fong di Mandor pada tahun 1777, belum ada pemerintahan yang menguasai daerah itu. Maka semua hukum dan undang-undang yang berlaku disitu dia yang menyusunnya. De Groot sangat kagum sejumlah pendatang campur-aduk yang berasal dari kaum petani biasa di Tiongkok mampu mendirikan negara dengan organisasi yang rapih dan terpimpin dimana berlaku hukum, ketertipan dan disiplin. Mereka memiliki perundang-undangan serta sistem keuangan sendiri.
Perundingan-perundingan  dengan pemerintah Belanda yang jauh lebih kuat, telah mereka lakukan dalam tingkat sederajat. Dari manakah semangat republik dan demokratis yang besar itu, sedangkan orang Barat selalu mengira kekuasaan di Tiongkok bersifat absolutis .
De Groot telah mempelajari keadaan di Tiongkok dan berkesimpulan semua ini adalah warisan adat-istiadat dan sistem kebijaksanaan dari negara leluhur.

Kehancurannya Negara-negara  republik di Kalimantan bararat telah mendatangkan kemiskinan di daerah ini yang luasnya lebih dari empat kali negeri Belanda
De Groot bertindak sebagai juru bahasa. Semua hal antara pihak Belanda dan pihak pimpinan Tionghoa melalui tangannya dan dia mengenal pemimpin-pemimpin kongsi dengan baik. De Groot telah mengumpulkan sebanyak mungkin dokumentasi karena mengetahui Belanda akan menyerang dan orang-orang Tionghoa tidak akan menyerah tanpa perlawanan
Van Rees seorang Belanda lain yang banyak mengetahui tentang Negara-negara, republik suku Tionghoa telah memberi kesaksian tentang pergaulan sama rata di republik itu. Orang yang berpangkat paling tinggi duduk berdampingan dengan yang paling miskin. Menurut van Rees di dalam penghidupan sehari-hari orang Tionghoa tidak mempersoalkan tingkat dan pangkat. Penguasa sipil Sambas bernama Muller dan seorang pejabat Belanda bernama Veth juga menyaksikan hubungan sama-rata. orang yang terendah pun setiap waktu dapat menghubungi pimpinan termasuk kapthai sendiri.

Tiada pemimpin yang merasa tersinggung bila seorang dari rakyat-biasa memasuki ruang kerjanya untuk membicarakan urusan-urusan kecil. Bila bertemu dipersimpangan jalan, pemimpin dan rakyat-biasa saling menyambut dengan ramah Pada umumnya sama dengan sifat orang-orang Tionghoa yang datang ke jajahan Belanda ,Di Jawa disatu pihak pendatang baru dari Fukien dengan mudah dikuasai oleh pemuka-pemukanyanya, tetapi dilain pihak menunjukkan kemerdekaan yang bertaraf tinggi tanpa sikap resmi dan hormat yang berlebihan. Pihak pemimpin cukup bijaksana tidak menuntut kehormatan yang lebih besar

Hutan ditebang dan tanah yang tidak begitu subur dijadikan sawah, kebun gula dan kebun buah-buahanan. Dikatakan tiada suku lain di dunia dalam keadaan yang sama dapat mewujudkannya. Bekerja dibawah terik panas matahari daerah khattulistiwa dari subuh hingga matahari terbenam, dipersukar oleh kekuasaan Belanda, tanpa perlindungan dari pemerintah tanah leluhur, tanpa modal, hanya dengan kecerdikan dan semangat-berusaha (spirit of enterprise). Menjalin hubungan keluarga dengan pihak Pribumi melalui pernikahan , Mendirikan sekolahan-sekolah merupakan salah satu usaha yang utama, sekalipun didesa-desa yang kecil. Di antara kaum Tionghoa sukar dijumpai orang yang buta-huruf. Mereka disukai penduduk Pribumi sebagai tenaga yang berharga.

Permulaan tahun 1960-an operasi chusus (Opsus) tentara telah melancarkan intrik penghasutan orang Dayak di pedalaman Kalimantan-Barat terhadap orang Tionghoa. Puluhan ribu orang Tionghoa dikejar-kejar, menjadi pengungsi di kota-kota pantai Dasar pikiran yang menelorkan operasi itu menyalahi cita-cita nation-building serta merugikan nusa dan bangsa Indonesia.

Adanya sejarah negara Thai Kong, pada hakekatnya tidak beda misalnya dengan adanya negara Demak yang didirikan Jin Bun alias Raden Patah. negara Indonesia terdiri dari banyak bagian yang dulunya mempunyai kedaulatan sendiri. Operasi chusus tetap dilancarkan di Kalimantan-Barat karena penduduk didaerah yang bersangkutan keturunan Tionghoa, meskipun mereka warganegara Indonesia. Diskriminasi terhadap Tionghoa adalah warisan politik adu-domba kolonial Belanda. Thailand yang tidak mengalami penjajahan telah menyerap orang-orang Tionghoa tanpa banyak persoalan. Apalagi bagi orang-orang yang pandai. Bekas Perdana Menteri Chuan Leek Pai dan banyak orang terkemuka lain serta tidak sedikit anggauta keluarga raja adalah keturunan Tionghoa yang sudah 100% menjadi orang Thai. Sebelum jaman kolonial orang2 Tionghoa di Indonesia juga dengan sendirinya terserap secara wajar. keturunan Tionghoa seperti Raden Patah dan Endroseno hingga Cekong semuanya telah terserap oleh pihak Pribumi Indonesia dimasa sebelum penjajahan. 
                                                                                                                          Mochtadin si beted